Skip to main content

Posts

Anak Pesisir

Waktu itu tampak kontras sekali Pasir putih yang mengilau Dan derai ombak yang mengganas Membuat hati siapa pun berdegup kencang Tapi tunggu! Kulihat di situ beberapa bocah Berlari Mencari harta karun layaknya permata Segenggam harapan mereka letakkan di sudut angkasa Di mana pelangi muncul sebagai harapan Harapan untuk memperkokoh; berasaskan persatuan Kesatuan Tanah Air tercinta Berlari. Cepat Cepat sekali Membawa kain Merah Putih kebanggaan Hormat dengan gagah, seakan merekalah sang jantung hati Indah sekali citra itu Aku tak ingin lupa --- Puisi dibuat ketika saya duduk di kelas 6 SD.
Saya kembali mengorbankan satu hal. Saya siap mengorbankan lebih banyak hal. Tapi tolong, jangan jadikan pengorbanan saya kali ini sia-sia.

Di Antara Waktu dan Ruang

Beberapa saat lalu saya pergi ke sebuah pameran arsitektur di kawasan Kota Tua Jakarta bersama seorang teman. Sebenarnya saya sendiri tidak begitu tertarik dengan dunia arsitektur, tapi apa salahnya mencoba kan ? Hitung-hitung dapat pengetahuan baru dan bisa main hehe. Pameran terdiri dari dua lantai. Di lantai kedua, ada karya-karya interaktif yang dapat dimainkan oleh pengunjung. Saya mencoba beberapa permainan yang akhirnya membuat saya bertanya. *** Jika kamu dapat pertanyaan "apa itu ruang?" apa yang akan kamu jawab? Saya pernah bertanya ke beberapa orang tentang hal ini, dan sebagian orang menjawab "ya yang ada dalam bangunan." Berbeda kalau jawaban kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tentu jawabannya adalah  1  sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah) ;   2   Fis  rongga yang berbatas atau terlingkung oleh bidang;  3   Fis  rongga yang tidak berbatas, tempa...

Cerita Tentang Seorang Manusia dan Gunung

Tiga hari kebersamaan kita selalu berarti Beban yang kutanggung tak seberapa jika ku bandingkan dengan indahnya diri mu Di tiap sela nafasku aku terdiam Meresapi keindahan yang tersaji -- Indah mu  membuatku egois Aku egois, tidak mengizinkan keindahan mu  dinikmati orang lain Padahal  kamu  sengaja membagi keindahan mu  pada yang lain Aku  pun  tertunduk menyesal -- Gunung , bisakah  kau  kembali seperti dulu? Menyajikan keindahan yang tetap sama seperti saat kita pertama bertemu? Maukah  kamu  tetap berada disana dan tetap berbagi bersamaku yang tetap disini? Karena aku tahu indah mu  sulit untuk dijangkau Untukmu, gunungku, yang akan tetap kunikmati keindahannya meski hanya dari "jauh" Sekretariat Mapala UI Kamis, 16 April 2015, 1:59
malam itu penuh bintang mataku bertemu dengan matanya di bawah sinar bulan aku pun terdiam kelu - saat itu aku sadar bahwa tak mungkin lari mengelak lagi lelah aku dibuatnya aku pun menerima kenyataan - pagi itu aku berjalan menapaki tanah basah sambil menatap langit kelabu yang baru saja meneteskan tangisnya hari ini telah datang berharap dirinya menuturkan ratusan kata - satu langkah lagi ia pun berlalu bagiku melihatnya bagaikan anugrah menggapainya bagaikan imaji - malam ini kembali penuh bintang aku kembali mencari mata yang tak kunjung ku temukan sayang, mataku tak kunjung bertemu lagi dengannya sama seperti hati dan akal yang tak pernah bersinergi - satu lagi hampir pergi meninggalkan ku di tepi canduku tak dapat dipungkiri dari pemilik rindu yang merasa sepi Depok, 30 Desember 2014 teruntuk kamu yang merasa
Saya selalu berada di tengah kebisingan. Dimana semua orang berbicara dan saling beradu. Beradu yang paling keras, beradu agar suaranya didengar. Ribet. *** Dilahirkan dari keluarga yang terbuka  membuat saya selalu berada dalam posisi tersebut. Saya jadi terbiasa  dengan kondisi tersebut dan tanpa disadari membentuk karakter saya. Ekstrovert, terbuka, kalau kata hasil tes IQ. *** Siang itu saya berada di sebuah toko kopi. Sepi sekali, hanya ada saya dan dua orang pengunjung. Saya memilih untuk duduk di smoking area , meskipun saya tidak merokok. Di luar sedang hujan. Saya membaca sebuah buku saat itu. Sambil menikmati kopi panas dan alunan musik dari playlist  di handphone , saya memperhatikan orang-orang berlari disana, berusaha menghindar hujan. Saya hanya tersenyum simpul sambil melihat kelabunya langit. Saya menundukkan kepala dan kembali membaca dalam buku. Tanpa sadar saya terhanyut dalam kesendirian. *** Sebenarnya saya sendiri  nggak...