Skip to main content

Posts

Showing posts with the label poem

11 Desember 2021

  Akhirnya tiba pada hari kita tersadar, pada asa kita bergantung. Asa memberikan hidup. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar. Marah, kecewa, sedih. Pada asa kita menyalahkan. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar. Tubuh adalah jiwa, jiwa adalah tubuh. Dua mata koin yang tak terpisah. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar. Hidup hanya sekadar, ada yang hampa di dalam. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar. Jiwa gerangan, butuh sesuatu. Kita memberi makan tubuh, jiwa? Alpa, lapar. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar. Bincang sejiwa dalam temaram, membiarkan seruak damai. Tubuh payah, jiwa katarsis. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar, dalam kuasa kita bernapsu. Lupa. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar. Manusia hanyalah seonggok daging, dengan ego dan asa. Akhirnya tiba pada hari kita tersadar, tanpa jiwa, kita mati. Berdamai. Yang akan menyatu pada akhirnya. --- Untuk yang masih belum bisa melupakan sesal masa lalu, sematkan maaf dalam diri. Untuk yang masih menyimpan asa, t...

Untuk Jiwa yang Datang dan Bimbang

Awalnya datang ketika matahari meninggi. Membangkitkan diri yang terpendam bertahun-tahun. Membawa kembali jiwa yang berkelana. Bincang sejiwa memecah hujan dan malam. Mata memanas, hati katarsis. Menit, jam, hari terlampau singkat. Masih ada yang membekas dalam diri; kecewa, rampang. Entah. Nyatanya, kita belum usai dengan diri. Hari demi hari akan datang. Berharap semua dapat selesai. Hingga bab baru dapat dimulai. Malam itu hujan turun. Ada bara yang tersisa, ketika perapian hampir padam. Ditiup, semakin menyala. Batang rokok hampir menjadi puntung. Abunya jatuh bersama dengan tangis dan senyum. Pada hisapan terakhir, harapan berbisik; "semoga segera berdamai dan kita bisa kembali menyatu dengan jiwa". --- 27 Oktober 2021, satu hari setelah kita berbincang hangat dan membiarkan sedih mengisi percakapan dan chat sejak malam sebelumnya, membiarkan batang rokok kita habis . Hari itu saya terpukul, tapi nyatanya ia tetap hadir. Setidaknya sampai beberapa saat setelahnya. Saat-...

Anak Pesisir

Waktu itu tampak kontras sekali Pasir putih yang mengilau Dan derai ombak yang mengganas Membuat hati siapa pun berdegup kencang Tapi tunggu! Kulihat di situ beberapa bocah Berlari Mencari harta karun layaknya permata Segenggam harapan mereka letakkan di sudut angkasa Di mana pelangi muncul sebagai harapan Harapan untuk memperkokoh; berasaskan persatuan Kesatuan Tanah Air tercinta Berlari. Cepat Cepat sekali Membawa kain Merah Putih kebanggaan Hormat dengan gagah, seakan merekalah sang jantung hati Indah sekali citra itu Aku tak ingin lupa --- Puisi dibuat ketika saya duduk di kelas 6 SD.

Ilusi?

SIA - SIA karya: Chairil Anwar Penghabisan kali itu kau datang Membawaku kembang berkarang Mawar merah dan melati putih Darah dan Suci Kau tebarkan depanku Serta pandang yang memastikan: untukmu. Lalu kita sama termangu Saling bertanya: apakah ini? Cinta? Kita berdua tak mengerti Sehari kita bersama. Tak hampir- menghampiri Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi. Februari 1943 -------------------------------------------------------- " We live alone, we die alone. Everything else is just an illusion . It used to keep me up at night. We all die alone. So, why am I supposed to spend my life working, sweating, struggling? For an illusion? Because no amount of friends, no girl, no assignments about conjugating the pluperfect or determining the square root of the hypotenuse is gonna help me avoid my fate. I have better things to do with my time. " - George Zinavoy (The Art of Getting By)  "Semuanya palsu di dunia ini, tanpa harus menjadi jahat...

Sekedar Kata

"Who should be blamed when a leaf fell from a tree? Is it the wind that blew it away? Or the tree that let it go? Or is it the leaf who grew tired holding on?" ////////////////////////////////////////////////////////////////////// Lelah. Rasanya aku ingin telanjang. Tanpa dikira pelacur. Atau dihakimi. Ingin teriak hingga dada ini sesak. Tanpa disuruh diam. Dan aku bermaksud untuk mendustai itu, jika kenyataan mengizinkannya.

Anggap Saja Semua Itu Ambigu

Mengerti bukan berarti paham.  Tahu itu, terkadang ambigu. Tidak selamanya bermakna. Dan terkadang menyakitkan. Adakalanya sebuah kisah dapat terjawab oleh waktu. Namun seringkali tidak. Apa yang sebenarnya sungguh ingin ditulis, bisa jadi bukan apa yang diinginkan. Apa yang diinginkan, bisa jadi tidak dibutuhkannya. Harapan.  Apakah itu satu-satunya cahaya?  Ataukah ada yang lain? Kegelapan.  Mengapa dia ada?  Untuk memberi pelajaran?  Atau hanya menjerumuskan? Semua yang hidup, akan menemui batasnya. Namun apakah batas hanya ada di akhir kehidupan?  Seperti apa bentuknya?  Menyenangkankah?  Atau mungkin lebih buruk dari kehidupan? Memiliki sisi gelap dan sisi terang yang berjalan beriringan.  Sungguh menyusahkan.  Terlebih bila itu tidak diharapkan.  Karena apa yang diperbuat tidak lagi dapat dikendalikan. Ketika tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Dan ketika tidak ada lagi yang mengerti. Sek...

Taman

Taman punya kita berdua tak lebar luas, kecil saja satu tak kehilangan lain dalamnya. Bagi kau dan aku cukuplah Taman kembangnya tak berpuluh warna Padang rumputnya tak berbanding permadani halus lembut dipijak kaki. Bagi kita bukan halangan. Karena dalam taman punya berdua Kau kembang, aku kumbang aku kumbang, kau kembang. Kecil, penuh surya taman kita tempat merenggut dari dunia dan 'nusia Maret 1943 taken from : AKU INI BINATANG JALANG (Chairil Anwar).

Pernahkah?

Pernahkah  kamu merasa bahwa semua ini hanya milikmu dan miliknya? Pernahkah kamu merasa terbang bersamanya? Pernahkah kamu merasa seolah-olah semua isi dunia berkonspirasi untuk mempertemukan kalian? Pernahkah kamu merasa sepi? Pernahkah kamu merasa kangen? Pernahkah kamu merasa tiba-tiba semua berubah dengan sendirinya? Seiring bertambahnya usia, bergantinya hari, bulan, tahun, berjalannya waktu Pernahkah kamu merasa kehilangan sesuatu, yang bahkan kamu sendiri tidak menyadari kehadirannya? Tanpa disadari, ia menghilang begitu saja, tanpa sebab, tanpa kata Yang katanya teman Yang selalu memanggil diri mereka bersahabat Yang selalu mencari kekompakan dalam diri mereka masing-masing Realitanya kita memang beda, walaupun nampak sama Realitanya kita sulit untuk mengeluarkan kata Apakah dirimu masih ingat ketololan kita? Apakah dirimu masih menyadari kehadiranku? Sahabat, apakah dirimu masih disa...

BISU

Kita berdiri disini Saling menatap satu sama lain Mencoba berinteraksi dalam diam Tanpa kata yang terucap Aku mencoba... Mencoba membaca pikiran Meyakinkan diri bahwa kita satu Satu hati, satu pikiran, satu rasa Suara tawa, tangis, canda mereka, mencoba membuyarkanku Aku tetap bergeming Menatap ke dalam kalbumu Tatapanmu mulai menusuk mataku Aku menyadari maksud tatapanmu Aku menolak, mencoba menghindar dari realita Hingga akhirnya aku sadar Kita hanya harus berdiri disini Dan tetap diam, tanpa kata